ADVETORIALBOALEMODAERAH

3000 Lampu Meriahkn Festival Tumbilotohe di Boalemo

BOALEMO, goinfo.id — Setiap akhir bulan Ramadhan tepatnya pada malam 27 Ramadhan, di Provinsi Gorontalo selalu diadakan tradisi tumbilotohe yaitu malam pasang lampu.

Tumbilotohe yang artinya malam pasang lampu, merupakan tradisi sejak dahulu yang sering dilakukan oleh masyarakat sejak Agama Islam masuk ke Gorontalo, sekitar abad XVI.

Untuk melestarikan adat dan budaya Gorontalo, tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Boalemo, tak mau ketinggalan momen yang sering dilakukan setiap setahun sekali dengan menyediakan 3000 lampu yang dipusatkan di alun-alun Tilamuta.

Tumbilotohe tingkat Kabupaten Boalemo, ini dalam rangka melestarikan nilai budaya di Kabupaten Boalemo. Dikarenakan tradisi ini sudah ada sejak dahulu.

Hal ini disampaikan Penjabat Bupati Boalemo, Dr. H. Sherman Moridu, S.Pd., MM., saat diwawancarai usai pemasangan lampu di alun-alun Tilamuta.

“Setiap tiga hari menjelang idul fitri, para leluhur Gorontalo, menganjurkan seluruh kaum muslimin dan musliman untuk melaksanakan sholat berjamaah dimasjid dan salah satu penerang yaitu lampu botol,”jelasnya.

“Tumbilotohe ini, khusus untuk masyarakat Kabupaten Boalemo sudah kita lestarikan dengan lampu ramah lingkungan serta getah kayu damar atau tohe tutu dan juga lampu pada mala yang berbahan minyak kelapa  dalam rangka untuk mendukung pariwisata hijau dan festival tumbilotehe tahun 1445 Hijriah,”sambungnya.

Tak hanya itu Sherman, sapaan akrabnya menyampaikan lampu yang disediakan Pemerintah Daerah yang dipusatkan di Alun-alun Tilamuta ada 3000 lampu.

“Untuk tohe tutu ada 337, lampu pada mala hampir 200 dan sisanya menggunakan bahan minyak kelapa. Disamping itu juga kita menggunakan bahan bakar minyak tanah akan tetapi masih didominasi oleh minyak kelapa kampung,”ujarnya.

Akhir kata orang nomor satu di Boalemo, tersebut membeberkan tradisi tumbilotohe ini akan selalu kita lestarikan.

“Insyaallah tradisi tumbilotohe ini akan selalu kita lestarikan dalam rangka meningkatkan daya tarik pariwisata dan dengan ornamen yang dikreasikan tanpa melupakan situasi dan suasana yang memang masih tradisional, ada morongo, dan juda pada mala,”tandasnya. (01/WLN)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button